Teranggun - Cerita Unik Dan Menarik.Selalu Memberikan Cerita Unik Yang Ada Di Belahan Dunia

Minggu, 23 April 2017

Memory Terindah Di Tanah Papua Bersamanya

Sudah lewat tengah malam. Aroma rusa guling bakar menyeruak hidungku. Air liurku menetes, demi menyaksikan Yosep yg ligat membolak balik hasil buruan kami di atas api unggun. Kami sama-sama lapar berat, karena sudah hampir setengah harian berburu rusa di rimba Papua. Untung saja, Yosep berhasil membidik seekor rusa malang yg sedang lengah
Mata rusa itu mengerlip seperti lampu. Yosep mengarahkan dengan hati-hati senapan laras panjang jenis Mauser ke arah buruan. Ia tak ingin menimbulkan gaduh. Ah. Seekor rusa dewasa.

Aku menunggu di belakang dengan senter di tangan. Sebagai seorang perempuan, aku kurang mahir berburu. Tapi kalau temanku yg berkulit hitam dan bertubuh tegap ini, jangan ditanya. Berburu rusa adalah sumber hidupnya, sebagai orang asli Papua. Selain babi, tentunya.

Yosep memberiku aba-aba untuk mengarahkan senter tepat ke arah rusa itu. Mendadak rusa itu diam mematung, terpaku melihat sinar. Dalam hitungan detik, suara senapan meletus, memekakkan telinga.

Bidikan Yosep yg jitu, berhasil melumpuhkan buruan kami seketika. Dengan cekatan Yosep menyembelih dan membuang isi perutnya. Aku terkekeh-kekeh senang melihatnya. Akhirnya kami bisa makan malam.

Aku dan Yosep pernah menjelajahi pegunungan Tamrau dan Arfak untuk berburu rusa. Namun, lokasi favorit kami masih di sepanjang pantai Kepala Burung. Sayang, kini semakin susah saja untuk menemukan rusa dewasa. Hewan itu kian langka. Banyak tangan yg tdk bertanggungjawab melakukan pembantaian besar-besaran di rimba Papua.

Yosep menyobek rusa bakar dengan gigi geliginya yg putih. Demikian juga aku, yg sedari tadi melahap hasil buruan kami dengan rakusnya. Kujejali mulutku penuh-penuh. Walau tanpa bumbu, santapan ini terasa lezat sekali. Sampai-sampai, kujilat jari jemariku yg menyisakan aroma daging.

Daging rusa guling bakar yg tersisa disayat tipis dan dimasukkan ke dalam wadah kedap udara. Yosep hendak memberikan buah tangan ini kepada dua saudaranya, Silvana, sang kakak ipar, dan Edo, adik lelakinya. Mereka berdiam di teluk Bintuni yg memerlukan waktu tempuh sekitar 6 jam lagi dari tengah rimba ini.

Kupacu jeep Wilisku dengan kecepatan sedang. Rasa kantuk kadang menyergap, sehingga aku dan Yosep harus bergantian mengemudi. Melihat fisikku yg sedemikian lelah, dia memaksaku untuk tidur saja. Tapi aku tak sampai hati. Untuk menepis kantuk, kuajak ia ngobrol sekenanya.

”Sudah berapa lama kau tdk menjenguk mereka?”
”Hampir setahun, mungkin.” jawabnya tak bisa memastikan.
”Aku belum pernah bertemu mereka. Bagaimana kehidupan mereka di sana?” tanyaku lagi.
”Ya… seperti pada umumnya penduduk Bintuni, adikku Edo, bekerja sebagai penjual kepiting. Kalau kakak iparku, Silvana, dia sama seperti kamu, sama-sama orang luar Papua.” tukasnya.
”Suaminya sudah meninggal, ditembak aparat.” tambahnya kemudian.
”Oh, aku turut berduka.”
”Sekarang dia buka warung ikan bakar untuk menghidupi diri dan 2 anaknya.”
”Hebat! Aku suka perempuan mandiri.” pujiku terus terang.
”Ya, aku juga bangga akan Silvana. Dia perempuan tangguh. Meski, hanya sebatas kedai kecil-kecilan saja. Sedangkan adikku, Edo, ah. Dia juga lelaki kecil yg kuat.” seraut kebanggaan terpancar dari raut wajah Yosep .

Kentara sekali kalau ia sangat merindukan kedua saudaranya itu.

”Mengapa kau baru sekarang memutuskan untuk pulang? Menurutku kau terlalu sibuk dengan masalah OPM itu.” ujarku.

Yosep terdiam. Ia paling tak senang kalau perjuangannya diusik orang. Apalagi olehku, sebagai warga luar Papua.

”Kami ingin merdeka. Merdeka dari kebodohan dan kemiskinan. Bukan semata-mata untuk berpisah dengan Negara. Andaikan pertambangan itu tak mengisap daya hidup kami…” Sorot matanya selalu nyalang saat membicarakan tentang perjuangan. ”Apalagi aparat pemerintah yg bertugas di daerah kami bersikap sewenang-wenang.” tukasnya, menambahkan.
”Oknum.” ujarku, menyggah. Tak semua aparat pemerintah berlaku demikian.

Perjalanan yg awalnya lancar-lancar saja mendadak berhenti. Terjadi kemacetan panjang di depan. Sepertinya ada pohon tumbang atau tanah longsor, hal yg biasa terjadi di jalanan hutan Papua.

”Wah, sepertinya malam ini kita harus tidur di hutan,” kata Yosep .

Aku mengangguk mengiyakan. Segera kuatur tempat dudukku agar dapat tidur dengan nyenyak di kursi Jeep yg keras ini. Begitu juga dengan Yosep . Kecapekan, ditambah suasana hutan yg hening dan dingin membuatku pulas dengan cepat. Tapi rasanya baru terlelap beberapa menit saat kurasakan ada tangan yg meraba-raba paha mulusku. Membuatku geli hingga akhirnya aku terbangun.

”Yosep , apa yg kau lakukan?” kutepis tangan laki-laki itu.
”Tdk tahu, Mon. Tiba-tiba saja aku pengen.” tangannya melayg, mencoba memegang payudaraku.

Aku kembali menepisnya. Kusilangkan kedua tanganku untuk melindungi kedua buah dadaku yg montok ini. ”Waktunya tdk tepat, Yosep . Banyak orang disini.” aku menunjuk deretan mobil yg berhenti di depan dan belakang kami.

”Kenapa tdk pas di hutan tadi saja!” aku menambahkan.

Memang, sudah biasa kami bercinta di sela-sela perburuan. Itu adalah salah satu wujud rasa terima kasihku karena Yosep sudah mau menjadi pemanduku selama menjelajahi ganasnya hutan Papua. Dia tdk mau dibayar dengan uang.

”Pengennya sekarang.” laki-laki itu terus memaksa.

Bahkan kini dia sudah mengeluarkan k0ntolnya yg besar dan hitam, yg selalu bisa membuatku orgasme berkali-kali. Memandangnya membuatku tergoda juga.

Aku celingak-celinguk melihat situasi.

”Iya, tapi jangan disini.” sangat tdk aman melakukannya di mobil. Karena Jeepku berbentuk terbuka, semua orang bisa melihat perbuatan kami dengan jelas.

“Dimana?” Yosep menuntut.

Aku segera memutar otak.

”Carilah tempat yg bagus di hutan. Kalau sudah ketemu, panggil aku dengan siulan.” cetusku.

Yosep segera melakukannya. Pura-pura ingin kencing, dia turun dari mobil dan pergi ke semak-semak di tepi jalan. Tdk melangkah terlalu jauh, dia sudah menemukan tempat yg cocok. Di bawah sebuah pohon Gaharu besar, tampak hamparan rumput halus yg empuk dan rata. Semak perdu rapat tumbuh di sekelilingnya, melindunginya dari pandangan orang di jalanan. Benar-benar tempat yg sangat sempurna.

”Suiittt..” tak sabar, Yosep segera bersiul pendek memanggilku.

Setelah memastikan kedaan aman, tdk ada orang yg memperhatikanku, aku pun pergi menyusulnya. Aku kaget saat melihat Yosep sudah menanggalkan celana panjangnya, hanya mengenakan celana dalam dan kaos t-shirt. Rupanya dia memang sudah benar-benar tak tahan.

Yosep segera merangkulku,

”Kamu selalu bisa membuatku bergairah, Mon.” bisiknya sambil mengecup belakang telingaku.

Daerah itu memang salah satu area sensitif di tubuhku, dan Yosep mengetahuinya. Dengan cepat, akupun menggelinjang dan balas mendekap tubuh kekarnya.

Tangan Yosep bergerak ke bawah, mengelus-elus paha mulusku sambil mencoba menanggalkan celana pendek yg aku pakai. Saat celana itu sudah jatuh ke tanah, dan aku berdiri cuma dengan bercelana dalam, Yosep langsung membelai-belai kaki jenjangku. Dimulai dari lutut, lalu bergerak naik perlahan ke atas menyentuh pahaku, dan terus naik hingga sampai ke selangkanganku. Tangannya berputar-putar disana, meraba benda mungil yg ada diantara kedua belahan pahaku. Dia seperti ingin merasakan kehangatan gundukan bukit kecil milikku yg masih terhalang secarik kain merah berenda.

”Ahhhh,” mendesah, aku merenggangkan kedua pahaku, memudahkan tangan Yosep untuk melaksanakan tugasnya.

Perlahan, gairahku mulai meletik. Kutarik wajah Yosep , dan segera kelumat bibirnya yg tebal dengan rakus. Lidahku menusuk, membelai dan menari-nari di dalam mulutnya, menjelajah disana dengan mesra.

”Hemph..” merasakan responku yg sangat baik, Yosep makin bersemangat.

Dia kini tdk cuma meraba, sesekali tangannya juga memijit dan mencubit-cubit pangkal pahaku. Jarinya juga sering menyelip, masuk ke belahan kemaluanku yg masih terhalang lipatan celana dalam. Telunjuknya menggosok perlahan-lahan bulu-bulu milikku yg terasa mencuat kasar.

”Aughhhh,” perbuatannya itu membuatku mulai mengerang perlahan.

Aku pun membalasnya dengan memasukkan tanganku ke balik celana dalamnya yg longgar. Dengan penuh nafsu kuraba dan kugenggam k0ntolnya yg sudah menegang dahsyat. Aku juga meraba dan mengusap-usap biji pelirnya yg mungil kembar. Yosep paling suka kalau aku melakukan ini, belaian pada buah pelirnya. Dia langsung mengerang.

Merasakan seranganku, Yosep membalasnya dengan melancarkan serangan lain yg tak kalah nikmatnya. Kali ini jari tengahnya menelusup masuk ke dalam lipatan kemaluanku dan bergerilya disana. Celana dalamku yg menghalangi, dia geser sedikit ke samping, sekedar memberi jalan bagi jarinya untuk lewat.

Tonjolan klitorisku yg sudah sangat dia kenali, digesek-geseknya dengan mesra. Sambil menggesek, dia juga terus menekan-nekan gundukan kemaluanku hingga aku makin mendesah keenakan. Sementara di atas, lidahnya terus bergerak mengulum bibirku. Yosep melumat dan mencium bibir tipisku habis-habisan. seksigo

”Hemphh…!” aku terjingkat saat jemari Yosep menyentil klitorisku. Dan dia terus melakukannya. Semakin aku terjingkat, semakin dia menyentil lebih keras. Aku yg tdk tahan, membalasnya dengan melakukan serangan brutal pada k0ntolnya yg berada di dalam genggamanku. Kupencet benda itu keras-keras hingga Yosep mengaduh kesakitan.

”Aduduh, Mon. Sakit!” rintihnya, tapi tetap tersenyum.

Kurasakan batang itu semakin mengeras dan membengkak dalam genggamanku. Saat aku menggosok dan menarik-nariknya, benda itu juga terasa berdenyut-denyut ringan, membuatku jadi makin suka. Aku terus membetot-betotnya selama Yosep terus menyentil-nyentil klitorisku. Dia menyentil keras, aku juga menarik keras. Dia menyentil ringan, aku tetap menarik keras, hehehe… pokoknya dia terus kuserang sampai menyerah.

Tak lama, konsentrasi Yosep mulai lepas. Serangannya pada klitorisku terasa semakin melemah dan akhirnya berhenti sama sekali. Bahkan ciumannya juga ikut berhenti. Dia sekarang cuma berdiri lemas dengan mata merem melek keenakan menikmati pijitan jari-jari lembutku pada k0ntolnya yg tegak mengacung. Celana kolornya yg longgar sudah melorot sejak tadi.

”Mon, aduh.. enak, Mon. Uhh.. Uhh.. Terus!” Yosep merangkul leherku, mencoba bertahan.

Tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil memojokkannya, aku terus melancarkan serangan. Kugenggam k0ntol Yosep semakin erat sambil terus kukocok cepat. Sesekali aku juga memijitnya keras-keras saat kurasakan tangan nakal Yosep kembali menusuk ke sela selangkanganku. Biji pelirnya yg menggantung bergoyang-goyang tak lupa juga kusambangi. Kuremas benda mungil itu sambil sesekali kucakar dan kucubit pelan, membuat Yosep langsung terjengkit setengah kesakitan setengah keenakan

”Mon, lepas…” terengah-engah, laki-laki itu berbisik, memintaku untuk melepas celana dalam.

Aku pun melakukannya. Bahkan tdk cuma celana dalam, semua bajuku kulepas hingga aku telanjang bulat di depannya. Yosep tak berkedip menatap tubuh sintalku. Terutama payudaraku yg bulat dan besar. Sambil memegang dan meremas-remasnya, Yosep juga mencopoti bajunya hingga kini kami sudah sama-sama telanjang.

Menumpuk baju kami sebagai alas, Yosep segera membaringkan tubuhku dan menindihnya. Dengan tak sabar, dia mencoba memasukkan k0ntolnya yg besar ke dalam kemaluanku. Agak sulit pada awalnya, tapi tetap bisa masuk. Begitu seringnya kami melakukannya hingga aku sudah tdk merintih sakit sama sekali. Yg ada aku malah mendesah karena rasa nikmat yg amat sangat saat k0ntol besar Yosep menggesek pelan dinding memekku.

”Eggh… Yosep !” bisikku mesra dengan kedua belah tangan membelit lehernya, memantapkan posisi.

Setengah mendekap setengah menggantung.

Di bawah, Yosep sudah langsung menggoyang tubuhnya, padahal k0ntolnya masih belum masuk seluruhnya. Rupanya dia sudah benar-benar tak tahan setelah tadi kuserang habis-habisan. Yosep menggenjot tubuh montokku dengan cepat. Dorongan dan tarikannya terasa begitu dalam dan liar. Aku hanya bisa menahan setiap desakannya dengan rintihan dan desisan yg makin membangkitkan gairah. Aku tdk kuasa untuk mengimbangi karena Yosep bergerak dengan sangat cepat,

”Mon, aku tdk tahan lagi.” tapi rupanya itu malah membuat Yosep jadi tdk bisa bertahan lama.
”Aku mau keluar!” bisiknya sambil meremas-remas kedua payudaraku yg bergoyang-goyang indah saling berbenturan di depannya.

Aku mengangguk.

”Pelankan goyanganmu.” aku menyarankan.

Aku ingin menikmati persetubuhan itu sedikit lebih lama lagi. Aku masih belum merasakan akan orgasme dalam waktu dekat.

Tapi Yosep sepertinya memang sudah tdk kuat lagi. Biar pun sudah memelankan goyangan, dia tetap tdk tahan. Diiringi dengan hujaman kuat yg dalam dan keras, Laki-laki itu pun memuntahankan laharnya.

”Mon, Oughh.. aku keluar.” Yosep mencium bibirku, sementara di bawah, k0ntolnya masih berkedut-kedut kencang menyemburkan spermanya yg hangat dan kental.
”Maafkan aku,” sesalnya karena tdk bisa mengantarku sampai ke klimaks.

Aku tersenyum dan membalas ciumannya,

”Tdk apa-apa. Masih ada kesempatan lain.”

Kurasakan tubuh kekarnya melemas, dan batangnya yg masih menancap di kemaluanku, perlahan-lahan terasa mengkerut dan mengecil hingga akhirnya lepas dengan sendirinya.

Yosep bangkit dan segera memakai bajunya kembali.

”Tunggu disini lima menit, baru keluar. Aku pergi duluan.” ujarnya sembari memungut BH dan celana dalamku dan membantuku untuk mengenakannya.
”Iya, malah mungkin agak lebih lama. Aku harus mencuci dulu memekku,” kutunjuk sungai kecil yg mengalir tak jauh dari situ.

Yosep mengangguk dan melangkah pergi, kembali ke mobil. Saat melewati semak berdaun kecil yg rimbun, dia tdk menyadari ada sepasang mata yg mengawasinya.

Aku sudah akan beranjak menuju sungai ketika tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua muncul dan mengagetkanku.

”Hei, siapa kau!” aku membentaknya sambil berusaha menutupi tubuhku yg masih telanjang.
”Justru saya yg harusnya bertanya, apa yg mbak lakukan dengan laki-laki tadi?” tanyanya dengan sopan tapi tegas.
”Ehm, i-itu suami saya. T-tadi kami… ” jawabku gugup terbata-bata. Aku terpaksa mengakui Yosep sebagai suamiku.
”Apakah mbak baru berhubungan badan dengannya?” dia bertanya lagi.
”Ah, tdk… iya.. tapi..” aku makin bingung. Apakah tadi orang ini mengintip?
”Ngaku saja, mbak. Ini demi kebaikan kita semua.” dia tampak menjilat ludahnya, seperti tergiur melihat kemontokan tubuhku.
”Eh, maksudnya?” aku pun berusaha menutupinya makin erat.
”Tahukah mbak kalau ini adalah pohon keramat?” dia menunjuk pohon besar yg ada di belakangku, tapi matanya tetap mengarah ke tubuhku.

Kutatap pohon itu dan menggeleng.

”T-tdk, pak. Memang kenapa?”
”Mbak telah melakukan sesuatu yg sangat fatal.” Laki-laki itu menggeleng.
”Barang siapa yg melakukan hubungan badan di bawah pohon ini saat bulan purnama, dia akan dilaknat mandul. Tdk punya anak. Tdk punya keturunan!” terangnya.
”Dan sekarang adalah bulan Purnama.” tambahnya kemudian.

Aku mendongak. Kulihat bulatan kuning terang yg bersinar penuh di langit. Aku langsung menggigil.

”Ah, jangan, pak. Aku tdk ingin madul. Aku masih ingin punya anak.” isakku.

”Bukan saya yg menentukan, Mbak. Ini sudah menjadi tradisi turun temurun di desa ini. Salah mbak sendiri, main seks kok sembarangan. Seperti tdk ada tempat lain saja.” dia malah memarahiku.

Aku masih ingin menikah dan membina keluarga bersama suami saat kembali ke Jawa nanti. Tapi siapa yg akan mau kalau aku mandul? Bayangan itu membuatku menangis sesenggukan.

”Apa tdk ada cara untuk membatalkannya, pak?” aku bertanya dengan suara bergetar.

Takut dengan jawaban yg akan kudengar.

”Ada sih, tapi…” laki-laki itu menggantung jawabannya.
”Apa, pak?” aku bertanya tak sabar.
”Mbak yakin ingin melakukannya?” dia balik bertanya.
”Apapun akan saya lakukan agar tdk mandul, pak.” aku meyakinkan.

Laki-laki itu mengangguk.

”Ada 2 cara…” dia berhenti, seperti ingin menambah tegang suasana.

Aku menunggu. Bahkan caranya tdk cuma satu, tapi 2. Aku kini bisa tersenyum gembira.

”Yg pertama,” laki-laki itu kembali berbicara.
”Mbak bersetubuh lagi dengan suami mbak, disini, dibawah pohon ini, dengan ditonton oleh seluruh warga desa. Kalau sudah selesai, mbak tidur telentang, siap menerima guyuran sperma dari semua laki-laki yg menonton. Silakan mbak gunakan sperma itu untuk mandi agar kutukan di tubuh mbak bisa hilang.”

Mendengarnya, senyum girangku langsung surut. Berubah menjadi umpatan kecil dalam hati. Berat sekali syaratnya. Aku tdk akan sanggup melakukannya. ”Y-yg kedua apa, pak?” aku bertanya, berharap yg ini akan lebih ringan.

”Yg kedua…” laki-laki itu menyeringai.
”Mbak bersetubuh lagi disini, sekarang, tapi dengan laki-laki lain. Tdk perlu ditonton dan mandi sperma. Mbak cukup menelan spermanya saja untuk melunturkan tulah itu.”

Aku menghela nafas.

”Apa tdk ada cara lain, pak? Saya tdk bisa melakukan dua-duanya.” Berat sekali syarat itu.

Bayangkan, aku harus bersetubuh dengan laki-laki lain!

”Terserah mbak. Saya cuma memberi tahu saja.” balas lelaki tua itu, tenang.
”Apa tdk ada cara ketiga, pak, yg tdk pakai hubungan badan?” aku mencoba bertanya, mencari alternatif.

Lelaki itu menggeleng.

”Cuma itu caranya, mbak. Silahkan pilih.”

Aku terdiam. Ini seperti memilih buah simalakama. Dimakan, ibu yg mati. Tdk dimakan, ayah yg mati. Bingung.

”Karena mbak mencemarinya dengan bersetubuh disini, jadi menebusnya harus dengan bersetubuh juga.” jelas pria itu. ”Tdk ada cara lain.” tambahnya.

Aku makin terdiam.

”Silahkan dipilih, mbak. Saya tdk memaksa. Cara pertama atau kedua? Atau malah pilih mandul?” gertaknya.

Aku menggeleng dan menelan ludah dengan berat. Meski tdk mau mengakuinya, aku sadar, aku telah kalah. Kata-kata MANDUL cukup untuk membuatku menganggukkan kepala. ”S-saya pilih yg kedua, pak.” lirihku.

Laki-laki itu menyeringai.

”Ya, aku yakin mbak bisa bersikap bijaksana.”
”A-apakah itu artinya… s-saya harus… bersetubuh dengan… b-bapak?” tanyaku tergagap.
”Tdk harus dengan saya.” sahutnya.
”Yg penting laki-laki lain, selain suami mbak yg tadi. Saya punya banyak teman di mobil, mbak bisa pilih satu.” dia menawarkan.

Aku segera menggeleng, menolak tawarannya.

”Jangan, pak. Bisa-bisa mereka kesini semua.” siapa sih yg akan menolak ditawari tubuh sintal menggoda di tengah hutan seperti ini, setelah berpisah lama dari istri atau pacar.

Itu seperti menawarkan ikan asin pada kucing. Bisa-bisa aku diperkosa rame-rame nantinya.

”Pastinya begitu,” laki-laki itu tertawa, memperlihatkan giginya yg sudah mulai ompong.

Aku memandanginya. Kutaksir umur pria itu sudah lebih dari 50 tahun, terlihat dari rambutnya yg sudah mulai beruban dan memutih, bahkan sudah sedikit botak. Tubuhnya kurus agak kerempeng. Kulitnya hitam legam khas orang Papua. Secara keseluruhan, dia cukup menarik juga.

”B-bagaimana kalau bapak saja yg… m-membantuku?” aku berkata memutuskan.

Pertimbangannya, dengan umur setua itu, dan kondisi fisik yg sudah tdk prima lagi, dia pasti tdk akan kuat bertahan lama menghadapiku. Aku bisa cepat dapat sperma yg bisa kugunakan untuk membatalkan kutukanku.

Tapi pria tua itu menggeleng.

”Saya sih mau-mau saja bantu mbak. Tapi masalahnya, saya sudah tdk bisa ngaceng lagi.” jelasnya.

Aku terhenyak, tapi cuma sesaat.

”Tapi bapak masih punya sperma kan?” tanyaku.
”Kalo itu ya masih ada, mbak.” jawabnya.
“Berarti tdk ada masalah, pak.” cetusku.
“Nanti bapak saya rangsang agar bisa mengeluarkan sperma itu.”
”Ehm, gimana ya. Apa masih bisa?” laki-laki itu tampak ragu.
”Apa bapak tdk tergoda melihat tubuhku?” Sambil berkata begitu, kuturunkan tanganku yg dari tadi menutupi dada dan selangkangan.

Kubiarkan dia melotot memandangi tubuh sintalku.

”Tergoda sih, mbak. Tapi tetap tdk bisa ngaceng.” dia membuka celananya dan menunjukkan k0ntol hitamnya yg tetap menggantung mengkerut menyedihkan.
”Kita coba aja dulu, pak.” aku berjalan mendekatinya.

Laki-laki itu terdiam saat aku mulai memegang dan mengelus-elus k0ntolnya. Benda itu terasa sangat mungil dan dingin. ”Siapa nama bapak?” tanyaku untuk mencairkan suasana.
”Yesua.” sahutnya singkat.

Matanya tak berkedip memandangi tubuh sintalku yg putih dan montok, yg kini menempel erat di depannya.

”Nama saya Mona.” aku memperkenalkan diri.

Kuraih tangannya dan kudekapkan ke dadaku, kusuruh Yesua untuk meremas-remasnya pelan.

”Eh, i-iya… iya, mbak.” dia melakukannya dengan tangan gemetar hebat.

Mungkin baru kali ini dia memegang payudara perempuan yg empuk dan mulus. Yosep dulu juga begitu waktu pertama kali melakukannya.

”Sudah berapa lama bapak tdk main sex?” aku bertanya lagi.

Tanganku terus meremas-remas k0ntolnya. Benda itu masih tetap tertidur.

”Sudah hampir 5 tahun, mbak.” Yesua menekan jemarinya di bukit kenyalku, seperti ingin merasakan teksturnya yg empuk dan kenyal. Selanjutnya, dia melenguh.
”Ughhhh,”
”Kenapa, pak?” tanyaku heran.
”Susu mbak… padat banget!” bisiknya, terlihat sedikit malu.
”Bapak suka?” godaku.

Pria itu mengangguk cepat.

”Suka, mbak. Suka sekali.” sahutnya.
”Kalau suka, tekan yg keras dong, pak. Begini!” kutekan tangannya, kusuruh untuk meremas lebih kuat lagi. ”Putingnya juga, pak. Dipijit atau dipilin-pilin gitu.” pintaku dengan muka memerah.

Entah kenapa, merasakan tangannya mengusap-usap payudaraku, membuat hasratku yg tadi sempat terputus, mendadak kembali.

”Bantu saya ya, pak, untuk membatalkan kutukan itu.” kudekap tubuh kurusnya, kubiarkan dia memelukku.
“Uh, i-iya, mbak.” Yesua mengangguk.

Tangannya mulai menjalar, mengusap-usap bahu dan punggungku yg halus dan mulus.

”Enghh,” aku sedikit melenguh saat jemarinya bergerak ke bawah, menjarah dan memijit-mijit bokongku yg bulat dan padat.
”Remas ini lagi, pak.” kutarik lagi tangannya, kubawa ke arah payudaraku. Aku masih ingin dia mengerjaiku disana. Aku memang paling suka kalau payudaraku diremas-remas. Rasanya geli-geli nikmat, bikin aku cepat terangkat.

Yesua melakukan seperti yg kuinginkan. Dia meremas dengan keras dan cepat. Pijitannya terasa begitu liar dan penuh nafsu. Daging kenyalku yg memenuhi seluruh telapak tangannya jadi tdk berbentuk lagi. Kadang mencong ke kanan, kadang ke kiri. Beberapa kali juga tergencet ke bawah, atau terlontar ke atas. Bahkan tak jarang, saling bertabrakan bertemu di tengah dengan puting mungil yg sudah tegang mencuat, saling menempel dan menyapa akrab. Sungguh sangat nikmat sekali rasanya.

”Ahhh… pak, ya… ya… begitu!” Birahiku makin menyala merasakan sentuhan nya.
“Ughh… tekan lebih keras, pak. Ughhhh… lebih keras lagi. Ahhhhh…” aku mendesah tak karuan.

Mataku terpejam, sementara tanganku masih terus meremas dan mengusap-usap k0ntol Yesua yg kini terasa mulai sedikit padat, meski masih jauh dari kata bangun.

”Sini juga, pak.” kuraih tangannya, kubimbing menuju pangkal pahaku. Kugosok-gosokkan tangan itu disana.

Aku tersentak sendiri saat kakasaran telapak tangan Yesua menjamah bulu-bulu halus di sekitar memekku. Apalagi saat jemarinya mulai mengusap dan menyodok-nyodok kasar, aku makin melenting. Rupanya, dia pintar juga merangsang wanita meski k0ntolya impoten.

Impoten?

Kurasa tdk. Benda itu kini sudah menegang dan mengeras sedikit, sudah lumayan kelihatan bentuknya meski masih terasa layu.

Aku jadi makin bersemangat. Kuremas dan kuusap-usap makin cepat. Sepertinya k0ntol itu bisa dibangunkan. Agak sulit memang, tapi tetap bisa. Hanya perlu usaha sedikit lebih keras daripada biasanya.

Di sisi lain, aku juga harus membagi konsentrasi dengan kocokan Yesua di pangkal pahaku. Tangan laki-laki itu kini menusuk dan mengorek-ngorek disana. Bergerak liar bagaikan mencari sesuatu. Saat sudah menemukan klitorisku, dia berhenti. Aku langsung merintih dan mengejang-ngejang saat Yesua tiba-tiba memijit dan memencet-mencetnya.

”Oughhh,” mataku terpejam.
”Tdk sakit kan?” tanyanya sambil terus memijit.

Aku menggeleng.

”E-enak… banget, pak! Terus, oughhhh… terus! Begitu… ya, aduduh!” rintihku sambil menggigit bibir.

Tubuhku terasa lemas karena saking nikmatnya. Kurangkul tubuh Yesua agar aku tdk sampai jatuh. Pinggulku bergerak mengejar arah gosokannya.

Sementara Yesua, sambil terus mengocok, juga memelintir dan memilin-milin putingku, membuatku makin bergetar dan mengerang keenakan.

”Uhh.. uhh..” aku mendekapnya semakin erat.

Pinggulku berputar ingin menghindar, tapi tdk bisa. Kocokan Yesua mustahil untuk dihindarkan, rasanya begitu nikmat.

Melihatku yg mendesah-desah dan menggelinjang tak karuan hanya dengan gosokan tangan, membuat Yesua bertanya.

”Tadi belum tuntas ya, mbak, sama suami?”

Aku mengangguk mengiyakannya. Kuharap dengan begitu dia akan membantu memuaskan hasratku yg sekarang sudah meledak-ledak tak terkendali.

Dan Yesua rupanya mengerti. Dia mempercepat pijatan jari telunjuk dan ibu jarinya pada klitorisku, membuat pinggulku makin bergetar dan melonjak-lonjak liar. Di atas, dia juga meremas payudaraku semakin keras, sambil terus mengelitik dan mengusap-usap putingnya yg kini sudah semakin tegak mengacung. Aku jadi makin tak tahan. Kudekap tubuh laki-laki itu semakin erat sambil kusandarkan kepalaku ke bahunya.

”Auw!” Yesua menjerit saat tanpa sengaja kugigit bahunya.

Salah sendiri, kenapa dia mencobloskan jari tengahnya ke liang memekku dengan tiba-tiba.

Aku membalasnya dengan menarik k0ntol laki-laki itu kuat-kuat.

”Auw!” Yesua kembali menjerit.

Batangnya kini sudah semakin keras dan tegak. Ukurannya juga sudah membengkak tiga kali lipat. Belum ngaceng sepenuhnya tapi tanganku sudah kesulitan menggenggamnya. Terbukti, Yesua memang tdk impoten. Dia cuma sulit ngaceng saja. Dengan rangsangan yg tepat, k0ntol laki-laki itu masih bisa berdiri normal.

Setengah membungkuk, kuperhatikan k0ntol hitam yg pendek namun gemuk itu. Ujungnya tampak menggelambir, tdk disunat. Aku jadi penasaran, bagaimanakah rasanya? Dengan gemas, aku terus mengocok dan meremas-remasnya hingga benda itu jadi semakin kaku dan menegang.

”Ughh,” rintih Yesua, tampak sangat menikmati. Sebelah tangannya kini meraba-raba bokong bulatku, menggosok dan mengusap-usap belahan pantatku yg halus dan mulus.

Di sisi lain, aku makin terpesona oleh kejantanan Yesua. Benda itu terus membesar dan makin membesar, sampai aku sudah tdk sanggup lagi menggenggamnya. Rasanya juga semakin kaku dan keras, seperti memegang tonggak batu. Terpesona, aku menghentikan kocokanku dan memandanginya. Sekarang tanganku cuma memijit dan mengusap-usapnya pelan.

”Ada apa, mbak?” tanya Yesua. Dia masih terus meremas bokong dan payudaraku.
“Yg begini ini bapak sebut impoten?” aku kembali mengocok k0ntol itu.
“Dulu bisa lebih besar dan panjang,” sahut Yesua.
“Ah, benarkah?” entah kenapa, ada sedikit rasa menyesal di hatiku, kenapa baru berjumpa k0ntol super ini sekarang, setelah masa kejayaannya lewat? Tapi tak apalah, itu juga masih lumayan, daripada tdk sama sekali.

”Tdk menyesal aku pilih bapak.” bisikku dengan birahi semakin menggelegak.

Kugenggam kantung kemih Yesua dan kugosok dengan binal. Tak sabar rasanya aku menunggu k0ntol besar itu merobek dan menusuk-nusuk selangkanganku. Pasti akan sangat nikmat sekali rasanya.

“Pak!” aku sedikit terjengit saat jari telunjuk Yesua menyelip di belahan pantatku dan menyentuh pelan bibir kemaluanku.

Tak ingin dikerjai lagi, aku segera merebahkan tubuhku dan membuka pahaku lebar-lebar. Yesua tampak terkesima memandangi tubuh mulusku, terutama memekku yg sempit kemerahan. Bulu-bulu halus yg tumbuh di sekitarnya, tampak sudah basah, seperti pepohonan tersiram hujan.

”Ayo, pak. Cepat lakukan, aku sudah tak tahan.” pintaku sambil menggerakkan pinggul berputar-putar.

Mengangguk, Yesua menjilati kemaluanku sebentar sebelum akhirnya memegang k0ntolnya dan mengarahkannya tepat ke bibir memekku. Dia mendorongnya pelan. Terasa kekerasan ujung batangnya saat menyentuh gerbang kewanitaanku, membuatku bagai tersengat listrik.

”Aduh,” aku mendesis. Benda itu terasa begitu besar bagi memekku yg sempit. K0ntol itu jadi macet, tersangkut.
”Tahan ya, mbak.” kata Yesua sambil terus mendorong.

Aku memejamkan mata. Aku ingin merasakan k0ntol itu menari-nari di dalam liang memekku, tak peduli bagaimana pun rasanya.

”Tekan terus, Pak.” sahutku sambil mendesah, benda itu masih nygkut.
”Ayo. Tekan lagi, Pak” aku memberikan semangat sembari tangan kananku merangkul leher orang tua itu.

Birahiku sudah tak tahan menuntut pelampiasan.

”Mbak nggak sakit?” tanya Yesua merasakan kemaluanku yg sempit sekali.
”Tdk apa-apa, ayo tekan lagi!” aku meminta.
”Baik, mbak.” dia kembali menekan dengan lebih keras.

Terasa topi bajanya sudah berhasil menelusup benteng pertahananku.

”Agghh…” aku agak menggelinjang merasakan ganjalan di mulut rahimku.
”Te-terus, Pakk! Oohh…” menarik nafas panjang, kucoba bertahan menahan ganjalan tongkat yg kekerasan dan ukurannya lebih dari yg biasa kurasakan.

Blesss! Dua pertiga lebih batang kemaluan Yesua sekarang masuk.

”Aduduh,” aku sedikit memekik sambil menahan perutnya, mencegah hujaman lebih lanjut.

Aku khawatir kebesaran k0ntol itu tdk mampu kulayani.

”Bagaimana, mbak?” Yesua membiarkan sejenak kejantanannya di dalam, menikmati kehangatan memekku yg terasa berkedut-kedut ringan.
”Hhhhh… sebentar, Pak. Sebentar…” aku menarik nafas dalam-dalam menahan ganjalan besar di rahimku yg seolah-olah menyumbat jalan pernafasan.

Aku berjuang keras agar bisa menikmati permainan itu.

Yesua mengangguk mengerti.

”Ahhh…” aku menggelinjang saat merasakan batang kejantanan laki-laki itu tiba-tiba bergerak seolah menyentak-nyentak liang memekku.
”A-apa yg bapak… lakukan?” tanyaku sambil merem melek keenakan.

Ternyata Yesua mulai mempraktekkan teknik kegelnya, yaitu mendenyut-denyutkan batang kemaluannya tanpa menggerakkan badan, seperti orang menahan kencing. K0ntol laki-laki itu menyentak-nyentak di lubang kewanitaanku. Aku jadi makin tersengat lemah tak berdaya. Kuresapi kenikmatan denyutan tongkat itu sambil kudekap tubuh kurus Yesua sebagai pegangan.

”Bagaimana, mbak?” kembali dia bertanya.
”Ehm, iya… tekan lagi, Pak. Sudah lumayan enak sekarang.” sahutku pelan.

Yesua mematuhinya dengan kembali menekan k0ntolnya pelan tapi kuat.

”Ugh. Iya gitu…” nafasku kembali tersedak.
”Terus, pak! Oohhh…” aku mendesah.

Tubuhku mulai mampu menerima tusukannya. Perlahan tapi pasti birahiku yg sangat menuntut pelampiasan menjadikan kemaluanku mampu meredam geliatan tongkat Yesua yg keras dan tajam itu.

Kini, k0ntol itu sudah masuk seluruhnya. Aku menghela nafas lega, sementara laki-laki tua itu tersenyum keenakan. Dia pun mulai mengayuh perlahan-lahan. Tusukannya pelan tapi kuat. Tiap tiga genjotan, Yesua seperti sengaja menekan agak kuat. Aku jadi tak tahan.

“Ohhh… sayang, tusuk lebih keras!” bibirku mulai ngaco menyuarakan ledakan birahi.
”Hhhh.. ya begitu! Aduh! Aduduh!” rintihku saat Yesua memenuhi permintaanku dengan mendorong batangnya keras-keras, membeset dinding dan pangkal kemaluanku.

“Mbak tdk apa-apa?” tanyanya ketika aku agak terlonjak saat menerima hujamannya yg kesekian kalinya.

Seluruh tubuhku semakin bergelinjang keras. Pinggulku mulai berusaha mengejar dengan liar kemana larinya tongkat laki-laki itu.

”Sshhhhh… Sshhh…” aku mendesah keras, rasa ingin orgasme mulai menjalari seluruh tubuh mulusku.

Kepalaku terdongak, mataku terpejam, sementara wajahku memerah semakin sayu. Nafasku yg berat sudah terengah-engah. Mulutku terbuka lebar mencoba menggapai oksigen sebanyak-banyaknya akibat jalan nafasku yg terasa tersumbat. Kedua tanganku mencoba bertahan menggayut di leher laki-laki itu.

Yesua tersenyum. Tanpa perlu bekerja terlalu keras, dia sudah bisa mengantarku mencapai titik akhir pendakian. Mendengar desahanku yg semakin tak terkendali, tangan kanannya segera meraih bokongku dan membekapnya kuat-kuat.

”Mbak, oughhhh…” dia menghujamkan k0ntolnya dalam-dalam.
”P-pak… aduh! Hhhhhh…!” aku cuma bisa melenguh menerimanya karena pinggulku tak berdaya untuk melarikan diri. ”Pelan-pelan saja, Pak! Oughhhhh…” Yesua kembali menusuk, kali ini lebih kerasl.

Tangan kanannya juga semakin erat mencengkeram bokong telanjangku.

”Agkhhhh…!” kepalaku sampai tersentak ke belakang, hampir saja membentur batang pohon.

Terasa bagian bawah tubuhku mengejang dan menggelinjang. Cairan lendir menyemprot dari dalam liang senggamaku. Aku melenguh, tapi Yesua tdk mempedulikannya. Dia terus menggenjot tubuhku, bahkan semakin cepat. Juga dalam. Sampai rasanya mentok ke dinding kemaluanku.

Aku menggelantung lunglai mendekap leher laki-laki tua yg tadi mengaku impoten itu. Orgasmeku sudah berhenti mengalir, tapi Yesua terus menghujam lorong kemaluanku. Dia terus mendorong dan menusuk sambil berpegangan pada bongkahan payudaraku yg bulat dan sekal. Aku jadi merasa lemas. Tubuhku seperti tdk bertenaga lagi, sementara pikiranku terbang ke awang-awang menjemput kepuasan birahi. Aku lupa diri!

Yesua tersenyum puas memandangi wajahku yg kuyu memelas. Aku mengernyitkan mata dan mendesah keras setiap kali hujaman k0ntolnya menusuk keras. Laki-laki itu terus mengayuh perlahan namun penuh tenaga.

“Ohhh.. Pak! Oohhh… sudah, Pak! Oghhhhhh…!” aku menceracau lepas kendali, tersiksa oleh deraan kenikmatan yg kembali dan kembali menghempas tubuhku.

Lenganku sebisa mungkin bergelayut di leher Yesua agar tdk jatuh. Dia berhasil memaksaku kembali merasakan gairah.

Yesua membantu dengan memeluk tubuh sintalku. Tangan kirinya membelit dari pundak menyilang ke ketiakku, sementara tangan kanannya kembali mencengkeram pantat telanjangku, menahannya agar tdk merosot jatuh. Kuku jarinya setengah dicakarkan ke belahan pantatku yg sudah sedemian panas membara. Beruntung tongkatnya yg sedemikian keras mengganjal kuat, membantu tubuh mungilku agar tdk merosot.

Yesua menunduk dan menggigit lembut bibir tipisku.

”Pak, oghhhh… mmphhhh!!” aku spontan bereaksi membalas ganas sentuhan bibir pria itu dengan mengulum dan menghisapnya kuat, mengemot mulut yg bau tembakau itu dengan penuh semangat. Lidahku menjelajah kemana- mana hingga sejenak aku lupa kalau di kemaluanku masih ada tongkat kerasnya yg mengganjal.

”Mbak, mmpmhhh…” Yesua membalas kulumanku yg penuh gairah dengan menjulurkan lidahnya dan mengemot mulutku semesra mungkin.
”Oh, orang tua ini… nikmat juga ciumannya,” benakku menerawang meresapi kemesraan yg kuperoleh.

Yesua kembali menunjukkan nafsunya dengan mengulum lebih keras, seraya mendekap tubuh dan bokongku yg bulat. Aku jadi makin terlena oleh kemesraannya. Panasnya birahi membara yg tadi sempat terputus dengan Yosep seolah-olah mendapatkan pelampiasan. Hasratku bagai disirami air sejuk kemesraan oleh dekapan dan ciuman panas Yesua, orang tua kurus yg seumuran dengan ayahku.

Aku jadi lupa segalanya hingga tak sadar kalau laki-laki itu ternyata sudah orgasme di dalam kemaluanku. Air maninya yg kental moncrot memenuhi liang rahimku.

”Ahhh…” aku shok merasakan lubang memekku yg jadi basah membanjir.

Dengan wajah sayu aku membuka mata dan memandang wajah Yesua yg tengah memancarkan paras penuh penyesalan.

”Maafkan saya, mbak. Saya sudah nggak kuat menahan.” ucap laki-laki itu.

Seharusnya dia menumpahkan spermanya di mulutku untuk menghilangkan teluh, bukan malah di dalam memek seperti sekarang ini.

”Terus bagaimana sekarang, Pak?” aku jadi bingung.
”Emmm… ya mbak harus bersetubuh lagi dengan laki-laki lain. Kita barusan sama saja dengan mencemari pohon ini. Mbak sekarang dilaknat dobel.” terangnya.
”Ahh, aku tdk mau!” gila apa? Masa harus main seks lagi? Aku sudah capek. Memekku sudah panas.
”Ini kan karena kesalahan bapak!” kutatap tajam matanya.
”Iya, mbak. Bapak minta maaf. Tapi mau bagaimana lagi, kita sudah telanjur melakukannya.”

Perasaanku campur aduk, antara bingung dan marah.

“Tdk! Pokoknya bapak yg harus bertanggung jawab!” aku berteriak frustasi.

Yesua mengambil celana dan mengenakannya.

“Saya pasti bertanggung jawab, mbak. Tunggu disini, saya panggilkan teman-teman saya untuk membantu mbak meluruhkan kutukan itu.”
“Eh, pak, tunggu..” dan sebelum aku sempat mencegah, laki-laki itu sudah bergegas pergi. Meninggalkanku sendirian meratapi nasib. Haruskah aku melayani 2 orang lagi untuk menghilangkan kutukan itu? Apakah itu sepadan?
Share:

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

PENGUNJUNG

Copyright © Teranggun | Powered by Mas Crot Design by Mas Crot | Blogger Theme by NewThemes.com